Menyimpulan Isi Informasi ( Tuturan langsung dan Tidak Langsung)

Posted on

Miina kali ini admin akan memberikan materi tentang menyimpulkan isi informasi dari tuturan langsung dan tidak langsung. menyimpulkan isi informasi ini sangat penting bagi kita karena isi informasi ini agar lebih paham.

Menyimpulan Isi Informasi ( Tuturan langsung dan Tidak Langsung)

Dari penyampaian sebuah informasi yang telah kita dengarkan atau teks yang kita baca, hendaknya kita bisa menyampaikan ringkasan isi informasi tersebut. Kita dilatih untuk mendengarkan informasi kemudia dapat menentukan pokok-pokok pikiran yang telah disampaikan oleh pembicara.

Langkah-langkah Menulis Kesimpulan
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan saat mendengarkan dan mencatat pokok-pokok uraian yang telah disampaikan oleh seseorang ialah sebagai berikut :

1. Memusatkan perhatian pada uraian yang disampaikan.

2. Mengikuti seluruh uraian yang disampaikan.

  • Mencari hal-hal yang disampaikan berulang-ulang dan mendapatkan penekanan pengucapan atau disertai dengan gerak anggota badan yang meyakinkan.
  • Mencoba menghubungkan antara bagian satu dan yang lain.
  • Mencatat langsung pokok-pokok uraian itu ketika mendengarkan.
  • Bertanya atau meminta untuk diulangi hal-hal yang belum dipahami.

Contoh  Infomasi
Bus Transjakarta Semakin Buruk
JAKARTA, KOMPAS – Sebagai satu-satunya angkutan masal didalam kota Jakarta, bus trasnjakarta belum mampu meyakinkan warga untuk meninggalkan kendaraan pribadi. Buruknya perencanaan operasional sejak awal membuat layanan semakin buruk dari tahun ke tahun.
Layanan bus transjakarta di koridor VI  Ragunan – Dukuh Atas merupakan contoh yang semakin buruk dari tahun ke tahun. Angkutan massal yang semula prima pada tahun pertama kini justru mengecewakan saat penumpang bertambah.
Pada tahun pertama, kedatangan bus pada jam sibuk masih dapat mencapai 15 menit sekali, kini, pada jam kerja, kedtangan bus mundur menjadi 10 menit-15 menit sekali.
Lamanya jarak kedatangan antar bus disebabkan oleh semakin mactnya jalur khusus bus karna banyaknya pnrobosan kendaraan prbadi.
Waktu tunggu penumpang juga meningkat dari 15 menit menjadi 1-2 jam. Banyaknya penumpang yang mengantre di dalam halte membuat mereka tidak dapat langsung masuk ketika bus datang.
“Pelayanan sekarang jauh beda dengan dulu. Setahun pada tahun pertama beroperasi, bus transjakarta enak sekali. Sekarang jadwal kedatangan tidak jelas. Penumpang seperti dibiarkan menunggu di shelter.” Tutur Hasan (21) calon penumpang transjakarta dari halte Jatipadang menuju Dukuh Atas.
Semakin buruk
Pengamat transportasi Universitas Trisakti, Trisbiantara, Minggu (21/3) dijakarta, mengatakan, layanan bus Transjakarta semakin lama semakin buruk karena tidak ada kesepakatan antara regulator dan operator mengenai standar dan layanan sejak pertama kali dioprasikan. Angkutan masal bernilai ratusan miliar rupiah ini dioprasikan dengan pola manual seperti angkutan umum.
Pemberangkatan bus dari terminal induk tidak dilakukan secara disiplin dengan pola waktu yang konsisten. Dampaknya, dalam satu waktu banyak bus yang datang beriringan, tetapi dalam waktu yang lain bus tidak melintas sampai setengah jam atau lebih.
Pengamanan dan sterilisasi jalur busa Transjakarta juga tidak pernah direncanakan dengan sungguh-sungguh sejak awal. Kepolisian dan Dinas Perhubungan sering berbeda kebijakan mengenai sterilisasi jalur saat menghadapi kemacetan parah.
Dinas perhubungan tetap berusaha mengatur agar jalur tetap steril. Namun kepolisian justru mengizinkan kendaraan pribadi masuk ke jalur bus khusus itu karena memiliki kewenangan untuk diskresi atau hak menyimpang dari ketentuan yang diizinkan. Tidak ada langkah sistematis dan terencana dari semua unsur untuk sterilisasi jalur bus Transjakarta, padahal sterilisasi jalur adalah kunci peningkatan pelayanan.
“jika perlu, Pemprov DKI menganggarkan sejumlah dana untuk membiayai sterilisasi jalur. Di Bogota, pemerintah setempat menggunakan tentara untuk mensterilisasi jalur bus,” Katanya menjelaskan.
Darmantoro dari Urban Transport Forum mengatakan,  perencanaan yang buruk juga terlihat dari penggunaan pola manual untuk sistem tiket. Meskipun sangat rawan kebocoran, pemerintah tidak kunjung menggantinya dengan sistem elektronik.
Dampaknya, Pemprov DKI Jakarta harus menyediakan dana lebih dari Rp. 100 miliar untuk subsidi operasional bus transjakarta. Subsidi yang besar membuat anggaran penambahan bus hampir tidak pernah tersedia sebelum tahun 2010.

Gambar Gravatar
Blogger yang ingin berbagi kepada semua orang ~~ IG : refsananda ~~ (STKIP Pasundan Cimahi "15)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *